Teixeira

Berjalan di atas angin
by : Priambada

Cape Town, Summer time, 20.00, Ku pacu mobilku menuju Canal Walk. Jalanan lebar itu terasa lengang sekali after hour, mobilku berjalan hampir tanpa hambatan, hanya traffic light Adderly Street seakan mempermainkan perasaanku yang sedang dikejar Waktu.
Lampu kuning menyala, kutekan pedal gas dalam – dalam melesatkan mercedes semi otomatis berteknologi triptonic itu meninggalkan bekas gesekan di aspal diiringi bunyi klakson mobil – mobil disampingku yang geregetan melihat tingkahku. “ah dasar bule..” umpatku dalam hati sambil membayangkan orang – orang di negeriku yang jangankan lampu kuning, lampu merahpun begitu yakin lampu diseberang telah berganti warna mereka pasti sudah berebut untuk berlalu.
Memasuki N1 Highway, kulirik penunjuk kecepatan, 240 km/jam. Jariku menggeser kontrol suspensi 3 titik kebawah, kudengar desis halus saat hidrolis suspensi bergerak menurunkan body mobilku 6 centi lebih dekat ke tanah, mengurangi hambatan udara dan membuat getaran di kemudi semakin tidak terasa.
Cape Town International Airport baru saja kulewati, tingggal satu tikungan lagi ku akan memasuki highway ramp Century City, area dimana Canal Walk berada. Jalan sedikit menanjak pada saat ku berpindah di jalur sebelah kiri. Kubelokkan kemudi mengikuti lekuk badan jalan yang mengarahkanku keluar dari N1 melalui dual ramp yang ada tanpa mengurangi kecepatan. Matahari merah muncul didepanku, mataku mengerjap membutakanku sesaat dari sebuah Polo VolkWagen putih yang tiba – tiba muncul entah dari mana.
Reflek kakiku menginjak rem dalam – dalam, bahkan kaki kiriku telah pula menginjak emergency brake, upayaku tidak berhenti sampai disitu, jariku mereset posisi suspensi ke posisi netral dan memaksa dengan brutal transmisi berpindah mode manual dan menurunkannya diposisi low speed. Deru putaran balik mesin, decit ban di aspal seiring desis hidrolis suspensi tidak menghentikan mercedes yang baru berumur 2 bulan ini tanpa menyentuh Polo mungil yang tiba – tiba muncul itu.
* * *

Hari ini berjalan sangat menyenangkan, semua tugas dari bos dapat terselesaikan dengan baik, pulang tepat waktu dan menikmati sunset di Sea Point sebelum pulang. Duduk di bangku taman, snacky, berbagi dengan seagull yang entah bagaimana bisa sejinak itu. Mungkin karena orang – orang di sini tidak pernah memanfaatkan kejinakan itu untuk dipindahkan ke dalam perutnya.
Beberapa orang melintas di depanku, beberapa berjalan sambil menuntun hewan peliharaannya, beberapa yang lain jogging, satu diantaranya duduk disebelahku, kami berpandangan sesaat, “hi..” sapanya sambil tersenyum. Ku membalasnya dengan tersenyum. Sesaat kami saling diam, memandang laut dengan masing – masing imajinasi kami. Angin sore yang membekukan membawaku berjalan di atas samudra Atlantic itu menuju matahari yang beberapa jam lagi akan menghilang di horizon bumi.
“Zeeta,..” aku menoleh kepadanya dengan pandangan bertanya, “Zeeta, that’s my name,” katanya. “O.. Dakocan” balasku, dia mengernyitkan dahinya. “Dakocan is my name,” kataku mengulang. “Decochan..” dia menirukan dengan lafal yang lucu. “Panggil aku Deco, jika terlalu sulit diucapkan,” tukasku, sambil terbahak dalam hati mengingat nama samaran yang baru saja kusebut.
Zeeta, gadis cantik sedikit pucat bernenek moyang portugis (penulis tidak bersedia menulis huruf pertama pada kata portugis dengan huruf kapital, red). Lahir dan besar di Afrika Selatan setelah orang tuanya mengikuti gelombang eksodus dari negerinya saat terjadi gejolak politik di negara tersebut beberapa puluh tahun silam.
Berdandan sedikit berlebihan tidak dapat menyembunyikan wajah pucatnya. Pembicaraan kami mengalir begitu saja, tentang berbagai hal, hingga keinginannya datang ke Indonesia, untuk dapat bersama dengan Saudaranya yang terpisah saat keluarga mereka berwisata ke Bali beberapa tahun yang silam. Rasa rindu itulah yang membuatnya selalu bersedih dan rupanya di sinilah tempat dia melepas kerinduan, tempat di mana mereka selalu bermain bersama – sama semasa kecil.
Namun dia menyadari, tidak mudah baginya untuk datang ke Indonesia saat – saat ini, mata uang lokal yang terus melemah, sementara kehidupan ekonomi mereka tergolong pas – pasan semenjak Ayahnya pergi. Entah apa yang ada di kepalaku, kutawarkan untuk membantunya dapat berkumpul lagi dengan Saudaranya, apakah iba mendengar kisahnya atau hanya sekedar bualan kucing yang melihat sebuah kesempatan. Tapi apapun itu, dia menyambutnya dengan mata berbinar dan penuh harap, tatapan antara senang dan tidak percaya. Pembicaraan yang menyenangkan itu akhirnya harus berakhir saat Zeeta meminta diri setelah kami sepakat untuk bertemu lagi beberapa hari mendatang, “Jika Deco benar – benar bersedia membantu agar kami dapat bersama lagi, tidak perlu terlalu banyak keluar uang, niatkan dan ikhlaskan saja,” kalimat Zeeta saat dia melangkah pergi. Aku membalasnya dengan senyum dan pandangan tak mengerti
Sesaat perasaan sunyi melandaku, sekian lama di kota ini, tidak pernah memiliki teman bicara yang lepas tanpa ada ikatan formal dalam lingkungan pekerjaan. Pekerjaanku sebagai Asisten Pribadi orang nomor satu Intitusi Pemerintah Indonesia di Negeri ini, membuatku hampir tidak memiliki waktu untuk diriku sendiri, hanya sisa – sisa waktu seperti ini yang selalu kumanfaatkan secara optimal untuk menikmati keindahan negeri namun tak berkata – kata ini. Pikirankupun terbang kembali di atas Atlantic yang dingin Berjalan di atas angin.
Lamunan tanpa arahku terhenti saat cellphone ku berbunyi, nyaring… Suara wanita yang sangat kukenal terdengar di seberang sana. Memintaku menggantikan salah satu staf senior yang mendadak berhalangan mempersiapkan pameran yang kami adakan di Canal Walk dan di buka malam ini. Arahan dan perintah singkat telah disampaikan, situasi yang sering kuhadapi, hanya saat ini hal yang kurasa paling berat adalah, bisakah kusampai di tempat tepat pada waktunya… Ku akhiri pembicaraan sambil melangkah di mana mobil baru kesayanganku berada.
* * *

Braaak…!! Suara itu yang pertama kali kuingat, saat ku terbangun dalam ruangan dengan kelambu dan hampir seluruh ruangan berwarna putih. Bau menyengat khas rumah sakit terdefinisi oleh syaraf penciumanku yang langsung berfungsi saat aku sadar, jam di dinding menunjukkan angka 12.30 dan dari sumber – sumber cahaya dalam ruangan itu, kuyakin saat ini adalah tengah malam.
Kuraih tombol disebelah kepalaku untuk memanggil perawat, belum kusadari sepenuhnya apa yang membuatku terbaring di tempat yang sangat kuyakini adalah sebuah rumah sakit. Samar ku ingat sebuah kecelakaan yang menimpaku, namun aku yakin bahwa saat itu kondisi tubuh dan mobilku tidak mengalami luka dan kerusakan yang berarti, namun kenapa ku bisa sampai disini.
Perawat datang, tersenyum dan menanyakan perasaanku. “Aku pikir cukup sehat maam,” ujarku, dia memeriksa pupil mata dan denyut nadiku. “Saya rasa anda sudah cukup sehat sir,” balasnya sambil tersenyum. “Jika general check up yang akan kami lakukan besok pagi menunjukkan hasil yang positif, anda sudah bisa pulang segera,” lanjutnya.
“Berapa lama aku pingsan sus,” tanyaku, “3 hari pak,” jawabnya. Setelah menyuntikkan Valium melalui selang infusku, suster itu menyarankanku untuk beristirahat sambil berlalu saat ku tanya apa yang terjadi padaku, karena ku ingat dengan jelas turun dari mobil dan berusaha membantu gadis dalam Polo putih itu untuk keluar dari bangkai mobilnya. Pertanyaanku belum terjawab saat perawat itu menghilang di balik pintu meninggalkanku sendiri, “ah, aku bahkan tak tahu bagaimana nasib perempuan dalam mobil itu.”
Aku mencoba untuk tidak melawan kantukku, namun pikiranku terus berusaha mengingat kejadian waktu itu. Setengah sadar karena pengaruh valium yang mulai bekerja dalam tubuhku, ku lihat pintu kamar terbuka, kulihat gadis cantik yang baru kukenal beberapa waktu lalu memasuki ruangan, tersenyum dan menyapaku. “Zeeta,” sapaku lemah. “Hai, bagaimana keadaanmu?” jawabnya, sambil duduk di kursi disamping ranjangku. Gadis berwajah cantik sedikit pucat itu meraih tanganku, dingin…
“Aku masih tidak mengerti kenapa keadaanku seperti ini,” kataku menggumam, “seharusnya aku baik – baik saja, tubuhku tidak ada yang terluka, hanya aku tidak mampu mengingat apapun yang terjadi setelah itu,” kataku melanjutkan. Dia masih tersenyum sambil mendengarkanku dengan sabar. “Sudahlah, tidak perlu kau ingat lagi kejadian itu, ikhlaskan,” katanya lembut di telingaku. Aku tersenyum mendengar kata ikhlas darinya, “seperti aku akan membawamu ke Indonesia mengunjungi Bali?” kataku setengah bercanda. Dia menggeleng, “tidak perlu lagi, aku sudah bersamanya saat ini, terima kasih,” ujarnya. Ingin kutanyakan maksud kata – katanya itu, tapi rupanya valium dalam darahku telah bekerja maksimal, aku terlelap entah untuk berapa lama lagi.
Terbangun aku saat sinar matahari menghangati wajahku, mataku mengerjap. Kulihat beberapa orang ada diruangan ini, wajah – wajah Indonesia tulen. Bos – bos institusi tempatku bekerja, dua orang teman kerjaku dan seorang wanita berkulit putih yang tidak aku kenal sebelumnya. Aku mencoba memperbaiki posisiku dan menanyakan pembukaan pameran yang seharusnya menjadi tanggung jawabku, tapi mereka mencegahku, “sudahlah, istirahat saja dulu,” kata bosku. “Bagaimana kondisimu?” katanya melanjutkan. “Baik bu, tapi saya masih tidak mengerti bagaimana kejadian waktu itu, karena seingat saya kondisi saya dan mobil saya tidak mengalami luka dan kerusakan yang berarti, dan bagaimana nasib wanita itu bu,” kataku.
Beliau menoleh kepada wanita yang tidak kukenal itu. Wanita itu mendekat kepadaku. “She passed away,” dia berkata dan membuatku merasa sangat tidak nyaman, “dia putri saya,” katanya melanjutkan membuatku semakin merasa shock. “Mmmm… I am sorry maam, i…,” suaraku tercekat di tenggorokanku tidak mampu melanjutkan kata – kataku, dia mengangguk sambil tersenyum, “I know, Traffic Department menjelaskan bahwa putriku yang bersalah, dia menerobos lampu merah saat anda melintas, satu – satunya kesalahan anda adalah melaju diatas batas kecepatan yang diijinkan,” lanjutnya dengan wajah sedih.
Aku terdiam berharap dia melanjutkan kata – katanya, karena lidahku serasa kelu, tidak mampu berkata – kata, sama sekali. “Saya datang untuk menanyakan satu hal kepada anda, karena berdasarkan informasi beberapa orang yang menolong anda dan perawat di sini, anda mengigau dan terus menerus menyebut nama Zeeta.” Entah bagaimana tiba – tiba semua menjadi terang, seakan sebuah layar kaca di depanku, memvisualkan kejadian saat itu.
* * *

Bunyi benturan yang sangat keras terdengar ditelingaku, kurasakan hentakan luar biasa mendorongku ke arah depan, kepalaku mendarat di air bag yang mengembang otomatis keluar dari pusat kemudi mobilku saat benturan itu terjadi. Sesaat ku terhenyak, terdiam. Begitu dapat menguasai diriku kembali, kulepaskan sabuk pengaman yang baru saja menyelamatkan jiwaku, setelah bersusah payah membuka pintu mobilku, tertatih ku keluar.
Sebuah Polo mungil berwarna putih ringsek berhimpit dengan mercedes kesayanganku. Kulihat seseorang didalam sana, diam tidak bergerak, sedikit terhuyung ku menghampirinya, tubuhnya basah bersimbah darah, gemetar aku saat menyadari dia terluka cukup parah, tidak terpikir olehku apakah dia masih bernafas atau tidak, aku berusaha mengeluarkan tubuhnya dari Polo mungil itu. Tidak lebih dari menit usahaku saat polisi datang memberi bantuan, tubuh itu di baringkan di jalan dan untuk pertama kalinya kulihat wajah pucat itu, “ZEETA…,” ku katakan nama itu setengah berteriak, ku tepuk – tepuk pipinya, ku goyangkan badannya sambil memintanya untuk bangun, tapi tubuh itu tidak pernah kulihat bergerak, hingga orang – orang disekeliling menarik dan berusaha menenangkanku.. “aku telah membunuhnya… aku membunuhnya,” teriakku histeris. Lalu semua berhenti…
Nanar kutatap wajah ibunya yang masih berdiri dihadapanku saat ini, kulihat air matanya deras mengalir, gemetar aku mencoba menggapai tangannya, dia mendekat meraih tanganku, sambil kugengam tangannya, semua berputar dan mulai menghitam lagi, masih sempat kubisikkan padanya “semalam dia datang kemari maam,” kalimat terakhir sebelum semuanya benar – benar menjadi gelap.
* * *

Berdiri ku disini, menatap merah cahaya matahari yang beberapa saat lagi akan terbenam. Suasana magis Tanah Lot menemani anganku berjalan di atas angin mencari sosok yang belum lama kukenal namun begitu lekat dalam ingatanku. Gemerisik secarik kertas di tanganku tertiup sepoi angin laut membawaku kembali menatap matahari merah di ufuk barat.
Ku angkat tanganku, kutatap surat dari Mrs Texeira yang disampaikan beberapa waktu setelah aku dinyatakan sembuh dan kembali bekerja. Kubaca lagi surat itu untuk entah keberapa ribu kali, surat yang membuatku bergidik, yang membuatku merasa sangat bersalah, membuatku lunglai dan membuat para pimpinan tempatku bekerja memaksa agar aku mengambil cuti beberapa waktu dan kembali ke Indonesia sampai aku merasa tenang.
Rapi disana tulisan Mrs Texeira, dan kumulai membacanya berharap sebuah keajaiban merubah isi surat itu untukku…

Dear Son,

Don’t know how it all happened to us. I feel emptiness on my own this time, sitting there all alone in the middle of the nowhere.

Thinking the story about that day in hospital, I decided to write this letter, let you know the truth, the thing you never know before.
I had two children, identical twin girl, and they the only I have since my husband left us.

Zeeta is my daughter, and Tanah Lot waves took her away couple years ago. We never had seen her again after all.

Natasha, my little girl, she just came out of her French course. Broken heart driven her to do something mad. She passed red light on highway ramp jump into the accident by you.

You haven’t met her before, because Natasha never been there at sea point, It was Zeeta who really come to fetch her little sister as she said to Natasha in her dream night before the day happened.

Don’t know whether want to blame you for it all or many thanks to make them together. Whatever it was, she has chosen you.

Go on your life, keep it as memories… Willingly

May all the best with you

Regards,

Teixeira, Mrs.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s