mAafkan saya ma…
Mama gak pernah menganggapnya seperti itu… Mama cuma mau lihat seperti saat baru kembali dari Jogja. Tidak lama mama menikmati hasilnya. Mama didik, mama berikan kasih sayang, mama berikan semua yang masih mungkin untuk mama berikan meski mama sangat sadar ada banyak kekurangan dari mama yang sangat tidak dia sukai.
Dia Mutiara mama… satu – satunya yang mama miliki setelah Papa dan Kakaknya pergi. Mama tidak pernah menuntut lebih, apalagi menyalahkannya atas kondisi mama. Tapi Mama juga tidak ingin kemudian dia tidak menganggap sama sekali apa yang sudah kami lakukan bersama – sama selama 28 Tahun ini tidak ada artinya.
Mama juga lelah… Saat mama berbicara, berusaha memberi pengertian kepadanya, yang dilakukannya selalu berteriak, yang dilakukannya menyakiti dirinya sendiri. Lalu bagaimana dia bisa mengerti apa sebenarnya yang mama inginkan? Apa sebenarnya yang ada di dalam hati mama? Harapan mama tentang dirinya? Jika belum apa – apa dia sudah tutup telinganya, tutup matanya, tutup hatinya untuk melihat, mendengar dan merasakan sebuah kenyataan bahwa memang dia sudah berubah jauh kebelakang .
Memang benar… Sudah kewajiban seorang ibu memang jika memberikan bekal yang terbaik untuk masa depannya. Sehingga mama dalam usia mama, harus bekerja membanting tulang paling tidak agar kebutuhan dasar untuknya selama menimba pengalaman dapat tercukupi. Dan mama sudah dengan Ikhlas melakukannya sendirian sejak Papa meninggal. Tapi apakah bukan Hak seorang Ibu mempertanyakan hasilnya dia mencari bekal? Mempertanyakan peningkatan, kemajuan dalam hidup dan kehidupan? Salah besar jika dia berpikir bahwa mama minta apa yang sudah mama berikan di ganti dan di kembalikan dalam bentuk Rupiah. Salah besar jika dia berpikir bahwa apa yang sudah mama berikan harus di ganti dengan barang… apalagi kalau bilang mama matre…
Belajar? Berkarya?… Bolehlah dia menyebut nyebut seperti itu, tapi mama tidak buta, mama tidak tuli. Dan mama yang mengasuhnya sejak dia dilahirkan di dunia ini, menyusuinya, membesarkannya. Dan selama dia menganggap ada hal lain yang bisa memberikan kebahagiaan kepadanya dan mama menghalanginya itu yang mama sebut sebagai kemunduran. Dia tidak melihat apa yang dia lihat, dia tidak mendengar apa yang dia dengar… Hatinya telah dibutakan oleh sesuatu yang sampai sekarang tidak bisa mama mengerti apa dan bagaimana.
Hanya sebulan sejak dia pulang, mama menikmati apa yang telah dia capai dalam menimba ilmu dan pengalaman. Lalu dia berubah seperti sekarang yang kalau mama bilang, lupa umur lupa kedewasaan… Dan mama dipaksa menerima keadaan itu karena dia akan mulai menyakiti dirinya sendiri jika mama mulai mengajaknya untuk berpikir secara dewasa sesuai umur yang sebenarnya. Berkelakuan sesuai umur yang sebenarnya, bukan terpaksa mengikuti sesuatu yang mana memang belum saatnya.
Jika menilai seperti itu berarti dia memang sudah mundur kebelakang… Mendinginkan apa? Dia merasa bisa karena memang tidak tahu apa – apa, Mencairkan apa? Dia merasa bisa karena memang belum saatnya. Tapi itu semua kan mimpi? Dia lupa, bahwa sebenarnya dia tidak butuh pencair, dia tidak butuh pendingin, dia sudah memiliki segalanya dalam dirinya… dia sudah memiliki figur seperti apapun di dalam keluarganya.
Itu dia contohnya yang mama bilang sebagai kemunduran… Cara mama berbicara memang seperti itu dan tidak pernah ada masalah selama ini. Hanya sejak dia berpikir menemukan sebuah es dalam kobaran api saja dia berpikir seperti itu. Kenapa dia tidak mengingat bahwa dari dulu mamanya juga seperti ini kalau bicara. Tidak ada yang berubah.
Yaaa… Kalau seperti itu semua orang di sini juga seperti itu. Siapa yang tidak bisa? Tidak mikir, tidak peduli, tidak paham, tidak empati… itu yang mama sebut sebagai kemunduran… Karena dia yang akhirnya harus terus membimbing, karena toh kenyataannya dia lebih dewasa, lebih berpengalaman, lebih berilmu. Dia jadi lupakan dirinya sebagai seorang anak, sebagai seorang figur sosial, sebagai orang dengan bekal yang lebih dan sebagai hamba dari Tuhan…
Saat ini?… Mama hanya ingin dia punya keberanian untuk kembali dekat dengan Tuhan. Hanya itu…
Dan ingat satu hal ya nak, terima kasih sudah memberi kesempatan mama untuk marah… kebetulan mama memang sedang ingin sekali marah. Ada rasa kadang Mama ingin salahkan anak, karena mama pikir akhirnya mama kehilangan domba mama karena anak. Kita sudah pernah bicarakan hal ini jauh sebelum kejadian, dan toh nyatanya anak sudah tahu bahwa dia tidak bisa sendiri, tidak mampu sendiri. Lalu kenapa membiarkannya pergi? Dan saat kejadian itu baru saja berupa tanda – tanda, berulang kali mama bilang, Datanglah!!! tapi anak tidak ada pernah datang… Memang tidak menginginkannya di awal, kalian melakukan sebuah kesalahan dalam memulai hubungan, bagaimanapun itu tidak baik. Tapi meski mama tidak melihat, mama tidak mengikuti prosesnya, toh mama lihat kenyataannya… hasilnya… mama sempat melihat domba mama menjadi seorang putri yang pernah almarhum papanya harapkan…
Tapi sudahlah… tidak ada yang bisa mama lakukan sekarang, bantu mama doa , agar dia kembali dekat dengan Tuhannya, dia punya lagi teman – teman yang sepadan dengannya yang bisa membawanya di mana dia seharusnya berada.
Semoga tangan Tuhan bersedia menyentuhnya…
* * *
Maafkan saya ma…
- speechless -
Pasti aDa Jalan
Dengan keyakinan yang sedikit keterlaluan, saya mulai membenahinya… Pertama, Sekitar bulan Juli 2007, hampir selama sebulan penuh saya berusaha melobi penguasa daerah untuk bersedia memberikan lagi ijin operasional yang sudah setahun kadaluwarsa. Lalu mulai masuk perpustakaan untuk belajar apa itu kentang dan bagaimana memproses nya menjadi tepung. Mendatangkan beberapa mahasiswa teknik industri untuk belajar mesin – mesin yang kami miliki. Prosesing Unit dan Mekanikal Elekrikal yang terkait dengannya.
Tidak mudah, sangat tidak mudah saya melakukannya saat itu… semua proses melelahkan dalam ketidaknyaman hidup yang sangat luar biasa. Belum lagi membaca berjilid – jilid Undang – Undang Perburuhan, Tata Aturan Niaga perdagangan dan Industri, Mekanisme Ekspor Impor. Semua harus saya pelajari sendiri tanpa mampu mendatangkan ekspertise mengingat kondisi saya saat itu sangat tidak memungkinkan.
Hampir setiap saat keputusasaan berhasil membangunkan saya dari mimpi, hampir setiap saat kemarahan membakar titian langkah yang sedang saya jalani saat itu. Beruntung saya punya beberapa sahabat yang tidak pernah seutuhnya meninggalkan saya.
- FA INNAMA AL USRI USRO FA INNAMA AL USRI USRO – Hanya itu yang tersisa di hati saya saat menjalani semua itu.
Dan… Puji Tuhan, 14 April 2008 – setahun kemudian – hanya di hadiri orang – orang terdekat saya. Prosessing Unit yang telah berhasil kami kalibrasi menghasilkan Tepung Kentang Pertama kami.
Terima Kasih kepada :
Mama, atas doa yang tidak pernah putus untuk saya, Indarwati Priambada, untuk tidak pernah lelah meyakinkan saya dalam keadaan apapun, saya akan mampu melakukannya, Anak – anakku, Raka Ramadhani Priambada dan Arr Rafi Rizky Ramadhan Priambada untuk cahaya harapan yang selalu kalian tampakkan, M. Arief Budiman dan Radetyo Sindhu Utomo, untuk kiriman buku Kun Fayakun serta mengingatkan ku untuk terus mempertahankan keyakinanku, Pak Budi Saputra, penyambung hidup yang selalu bapak kirimkan kepada kami tanpa kata – kata, Tatiana Dian Priambada, untuk Inspirasi dan keberanian yang di berikan
“G I L A”
Tepung Kentang… Kenapa Tepung Kentang? Mau di Jual Kemana? Duit dari mana? Siapa yang mau membantu? Pertanyaan itu yang selalu menyapa saat saya harus menjelaskan kepada berbagai pihak tentang rencana ini. Jujur, pertama kali saat saya melihatnya, saya juga tidak begitu yakin dengan apa saya lakukan.
Industri… Tepung Kentang… Mahal… Iklim Investasi Lesu
* Industri… sebuah lahan yang belum tersentuh oleh saya sebelumnya. Tidak ada pengetahuan apalagi pengalaman dalam bidang ini
* Tepung Kentang… jangankan Tepung Kentang, Tepung Terigu saja bisa di hitung dengan jari saya melihatnya
* Mahal… Membeli sebuah Pabrik? Dengan kondisi saya, membeli pabrik ini adalah sebuah impian di tengah hari bolong… Mimpi mas :p
* Iklim Investasi Lesu… 2007 – 2008, mungkin mimpi paling buruk Negeri ini untuk semua kegiatan usaha, apalagi memulai kegiatan usaha. Harga minyak yang tidak terkendali, biaya hidup yang semakin tinggi, Krisis energi di mana – mana…
Kepala saya rasanya sangat berat dan perut mual jika mengingat kembali saat – saat itu – 27 Mei 2007 – saat akhirnya dengan komposisi seimbang antara harapan dan keputusasaan, saya putuskan untuk membeli pabrik ini.
Selanjutnya melakukan ritual egosentris yang selalu saya lakukan saat saya me – recharge energi saya. Tidak menonton atau membaca berita buruk hanya berita gembira dan gosip – gosip bahagia. Tidak membaca buku – buku motivasi, tidak melihat Iklan dan tidak mendengar musik dalam birama 4/4 bernada dasar minor. Stop Film Indonesia dan jauhi Sinetron.
Seminggu setelah melakukan ritual tersebut saya melakukan apa yang harus saya lakukan… Memotong rumput yang sudah tumbuh tinggi di lingkungan pabrik, membersihkan halaman seluas 47.200 m2 dan mengecat kantor. Semua kami lakukan hanya bertiga… dengan 2 sahabat saya, tentunya dengan semangat ‘67 sambil mendengarkan pidato Bung Karno dan iringan musik Rolling Stone.
First sight, first shoot, kuasai Teknologi Informasi… Tanam teknologi terbaru dalam semua data prossesing. Plasma – Inti, dalam pengadaan bahan baku, tidak tergantung pada sesuatu yang tidak dalam kendali. Konversi Sumber Energi dari PLN dengan membuat Power Plant dengan bahan bakar Minyak Jarak. Solar Cell di atap Main Office Building untuk sumber Energi bagi peralatan elektronik pendukung operasional…
Semua itu yang tertulis dalam kerangka awal proposal Investasi yang saya susun dan ku sampaikan pada seorang teman yang tahu persis kondisiku saat itu, hasilnya?
Friend says :
“Kamu adalah manusia pemimpi dalam kebutaan, Sakit Jiwa, Kram Otak, Rusak Permanen… J “
Dan aku menjawabnya :
“Kenapa Tepung Kentang? Karena Pabrik ini adalah satu – satunya Pabrik Tepung Kentang dalam kapasitas Industri di Indonesia…”
friend says :
“G I L A”
*Welcome to Trimitra Era Sejahtera, PT
We arE all penCils in the hand of God
Sabtu siang, dari Juanda sepulang dari jakarta aku sempatkan mengunjungi Indar di kantornya. 6 bulan tidak bertemu, tidak banyak yang terlihat berubah darinya, straight and teges… senyum riangnya, perubahan air mukanya saat dia tidak nyaman, cara bicaranya, hampir semuanya sama… profesi pialang saham yang identik dengan dunia malam saat mereka gain the point yang kini jadi dunia nya tidak banyak merubah dirinya.
Tidak lama, hanya mampir dan berbincang ringan tentang keadaan dirinya dan anak – anak, saat berpamitan tiba, dia menulis sesuatu di kertas dan diletakkan disakuku… dia berpesan hanya boleh di buka jika aku merasa sendiri.
Sambil berjalan ke tempat parkir ku membayangkan kembali kebersamaan kami yang memang tidak banyak dapat kuingat lagi setelah semua ini.
Hari ini empat tahun yang lalu, pertama kalinya kulihat senyum tercantiknya, terkembang di antara jabat erat tulus para sahabat dan peluk erat restu orang tua…
Tidak ada kata lain yang bisa ku ucapkan saat ini, betapa aku sangat bersyukur ada disana saat itu, karena kita tidak pernah tahu yang akan terjadi setelah hari itu.
Dia selalu ada, dalam susah dan senang bukanlah sebuah kiasan.
Ketabahannya, membuatnya bertahan menanggung luka akibat keyakinanku
Kesabarannya, membuatnya mampu terus mengobarkan semangatku untuk meraih obsesiku
Ketulusannya, membuatnya rela dan yakin untuk melepasku pergi mengejar hasratku
Tidak banyak yang dapat kuingat saat ini tentang kami, tapi ada hal yang mungkin tak pernah dapat ku lupa tentang dirinya.
Tidak kulupa apa yang dia tulis dan tempel di Lemari es kami saat ku mulai berlagak menjadi pahlawan kesiangan…
“It is one of the most beautiful compensations of this life that no man can sincerely try to help another without helping himself…”
Tidak juga bisa ku lupa saat di titik nadir terendah ku kehilangan segalanya, ku bertanya padanya, “kenapa saat seluruh cobaan hidupku hampir berakhir, muncul lagi persoalan baru yang jauh dari anganku untuk kehilangan lagi…?”
“The man who has no problems is out of game..” – sms ini masih ayah simpen lho bun,..
-
Belum lagi caranya untuk meyakinkanku bahwa anak- anak kami dalam kondisi baik – baik saja serta terus dan terus mengingatku saat kami telah jauh dan agar aku tidak terlalu khawatir dengan mereka… Dia menuliskan semacam puisi… – atau emang puisi to bun? hehehe, it wasn’t other side of you… it was really you –
Bersyukur, seharusnya itu yang ku lakukan… saat menyadari betapa hal – hal kecil itu sangat berarti buatku. Hal – hal itu yang membuatku pernah kuat bertahan menghadapi segala persoalan hidup yang sepertinya tidak kunjung berakhir.
Tidak pernah aku bisa berpikir bagaimana semua ini bisa terjadi, saat semua hal telah kupersiapkan, kulaksanakan dengan sungguh – sungguh, berusaha membuat setiap orang yang memang patut bahagia untuk dibahagiakan, tapi rasanya selalu saja ada yang salah… Apakah setiap saat keyakinan harus berubah, apakah setiap saat mimpi harus sama? Entahlah, aku sangat ingin jauh dari memikirkan hal – hal yang aku tidak pernah tahu dengan sebenarnya apakah ada jawaban untuk semua hal yang pernah terjadi…?
Bukan aku kalau tidak selalu penasaran… Sesampai di mobil, ku buka kertas kecil yang tadi diselipkan olehnya di kantongku… (kok tulisan tanganmu masih jelek to bun
)
“…Dear ayah, “We are all pencils in the hand of God” yang terus menuliskan kisah yang akan menjadi sejarah… Jangan pernah berhenti berharap, yakinlah pada mimpi ayah karena itu begitu nyata. Lakukan apa yang ayah yakini bukan apa yang ayah inginkan dan jangan pernah berhenti meski otak dan hati ayah begitu lelah… Life is like riding becycle. You don’t fall off unless you stop pedalling”
Love,
Bunda
Sampai aku posting, aku belum juga bisa menghentikan air mata buaya ini…
tiba – tiba saja aku merasa begitu rapuh.. begitu banyak apa yang telah dia beri meski hampir setiap saat aku menyakitinya… hampir setiap saat…
we don’T know each other
“mencoba mencari jalan yang sebenarnya itu bukan jalan yang semestinya…
semua jalan setapak hilang yang ada hanya hutan belantara…
tertusuk, tersayat, tapi harus di buka jalan itu…”
“mungkin bila kita saling berbicara tentang sulitnya kita bersatu
kita akan mengeluarkan air mata bersama…..
sesuatu cinta yang terhalang dan butuh pengorbanan
….untuk melewatinya….”
Wahyunie Priambada
We both are definitally same, but we don’t know each other