Just Other Side Of Me


Great Moment (3)

Posted in Uncategorized by Bnoky on June 9, 2008

Parangtritis, sore itu aku pilih tempat ini untuk menatap sunset… Masih di temani pak nDut yang setia, kami duduk di pasir yang tampaknya makin kotor saja. Aku lanjutkan ceritaku pada pak nDut. Kali ini tentang aBbie dan Parang Kusumo.

Aku yakin, jika ingat kedekatan Lilik dengan aBbie, pastilah Lilik sudah bercerita tentang dirinya yang hoby “bermain” di Parang Kusumo tiap bulan purnama, bisa ku bayangkan image yang melekat di kepala aBbie tentang Parang Kusumo.

Sore itu, pertengahan tahun 2005, ku telp aBbie di Extensinya, sudah lama kami tidak berjalan – jalan berdua, sibuk dan tentu saja kami harus menjaga perasaan pasangan kami masing – masing. Tapi hari itu, kerinduan tak tertahan, aku sampaikan keinginanku untuk bisa bersamanya sepulang kerja, dan itu yang terjadi… Kami keluar kantor setelah hampir tidak ada satu manusiapun ada disana.

Kami menuju Parangtritis, tidak begitu banyak pengunjung saat itu, mungkin karena hari kerja… Angin senja tidak mampu mendinginkan kehangatan kami yang saling mendekap sambil memandang sunset di sana, sambil berbincang betapa sulitnya kami bisa bersatu.

Sekitar jam 21.00 kami pulang… dengan berat hati kami melangkah dalam diam, sibuk dengan pikiran dan perasaan kami masing – masing menuju di mana motor aBbie di parkir. Kesunyian itu berakhir, saat kami sadar sudah setengah jam lebih kami melangkah dan kami belum juga menemukan tempat parkir motor aBbie.

Melongok kanan kiri… sadar jika kami salah arah. Kami tersesat.

Ku peluk aBbie sambil perlahan berjalan mencari jalan kembali. Entah berapa lama dan jauh kami berjalan, tapi sepertinya kami berputar – putar di tempat yang sama. Kecemasan mulai tampak di wajahnya, cengkeraman tangannya di lenganku seakan mengatakan kekuatirannya. Ku genggam dan ku tepuk punggung tangannya sekedar memberikan rasa nyaman…. dan sampailah kami di sebuah deretan rumah remang – remang namun tampak ramai, musik dangdut mengalun dari beberapa rumah.

Sadar kami masuk kompleks di mana Lilik biasa melakukan ritual bulan purnamanya, sengaja aku tidak memberitahu aBbie di mana kami berada, tapi aku tahu tidak akan butuh waktu lama untuknya menyadari di mana kami saat itu. Beberapa pemuda sempoyongan sambil memegang botol minuman keras berlabel jawa dan mpok – mpok berdandan menor berbaju minim dengan ukuran minus 1 dari ukuran tubuhnya.

Cengkeraman tangan Bbie yang makin erat di lenganku meski tidak terucap dari bibirnya yang mengatup rapat menandakan bahwa dia sadar di mana kami berada saat itu.

Beberapa pemuda teler mendekat, aku berusaha mempercepat langkahku sebelum aBbie sadar. Tiba – tiba tempat itu jadi sunyi, tidak ada gumaman orang berbicara, tidak ada musik dangdut, tidak ada ketawa aneh… hanya suara angin dan sepatu aBbie beradu dengan batu – batu pantai. Aku menoleh sekilas. Puluhan pasang mata memandang aneh kepada kami. Aneh… dan aku tahu apa yang mereka pikirkan.

Pak nDut tertawa keras – keras mendengarkan cerita ku, mungkin dia juga sedang membayangkan apa yang ada di kepala para penjaja cinta dan para tamunya itu.

Sukurlah, beberapa ratus meter kemudian kami temukan jalan utama parangtritis sehingga tidak sulit buat kami mencari tempat parkir kami.

Sulit ku hapus kenangan itu dari kepalaku, yang akan selalu membuatku tertawa jika mengingat salah satu pemuda teler itu menyeletuk dalam bahasa jawa… “wah barang anyar kuwi, tapi mesti larang yo dab..? soko ibukota kuwi… Nggo aku wae dab…!!” serta celoteh yang makin lama makin tidak karuan…

Hampir aku kalap untuk menghajarnya (atau di hajar) sesaat sebelum kusadari bahwa aBbie tidak mendengar kata – kata itu… dan menyadari 12 lawan 1 bukanlah pilihan yang bijaksana. Ku teruskan langkahku sebelum situasi makin buruk.

Tapi mengingat kisah itu juga membuatku selalu menangis, menyadari aBbie hingga kini belum juga siuman dari koma sejak setahun yang lalu. Hanya sesekali jiwanya bergerak berusaha merabaku, menyaksikan raga dan pikirannya menari – nari sendiri di luar sana tanpa disadari dan tidak ada satupun yang mampu aku lakukan kecuali hanya berdoa dan menatapnya di sini… Di sampingnya…

Cepat sembuh ya Bie…

Leave a Reply