Just Other Side Of Me


Great Moment (2)

Posted in Uncategorized by Bnoky on June 9, 2008

Tahun 1999, kami masih berkantor di sorowajan, belum punya staf yang membantu kami untuk melakukan berbagai aktifitas kantor. Malam itu, kami berlima, Itok, Arief, Jeng Cret, Adiknya Jeng Cret (sapa namanya jeng?) dan aku menempel – nempel poster salah satu klien kami. Selesai melaksanakan tugas, semua kembali ke markas besar di sorowajan sedang aku (pake motor Itok) mampir ke rumah teman di daerah Paku Alaman. Pagi – pagi aku balik menuju kantor sekitar jam 5.30 karena motor mau di pakai Itok. Sesampai depan THR menuju Sorowajan, Pak Poles sudah mencari rejeki dengan menyetop kami pengguna motor. Hasilnya, aku harus berjalan kaki menuju kantor karena ku tidak membawa surat kendaraan plus uang sepeserpun.

Sampai di kantor seperti biasa semua masih tidur dan adalah pekerjaan yang paling sulit membangunkan mereka saat mereka baru terlelap. Ku gerayangi Itok, ku ambil STNK dari dompetnya dan tidak kutemukan serupiahpun.. Bagaimanapun aku harus memberi kompensasi yang cukup kepada pak Poles nanti untuk bersedia melepaskanku. Arief, sasaran kedua. Ku gerayangi dia dan ku temukan dompetnya. 15 ribu rupiah, cukuplah untuk naik bis dan membayar kesalahanku tidak membawa STNK.
Ku bisikkan dengan lembut di telinganya, sambil ku goyang – goyang badannya… “Rief… Ku pinjem uang mu di dompet, aku ketangkep polisi gak bawa STNK..”.
“hmmm… hmmm… jawabnya” Aku tahu, meskipun dia hanya menjawab hmmm, tapi seperti biasa juga dia pasti sudah merestui hehehe…. many thank, rief.

30 menit kemudian seluruh persoalan motor selesai… tapi ternyata jawaban “hmmm…” tadi pagi bukanlah restu tapi jawaban dia buat pacarnya dalam mimpi (siapa pacarmu itu koh? Intan ya? Hihihi…) karena dia harus pulang ke kampung halamannya dengan uang terakhirnya itu… Alamak :( so sorry

Kejadian itu selalu membuatku tersenyum.

Agustus 2007, Surabaya… di kamar kost sedang beres – beres kamar. Ku temukan dompet ku yang sudah lama sekali tidak terpakai di tempat penyimpanan. Ku keluarkan seluruh isinya, beberapa barang lain menarik perhatianku. Ada ATM, ada kartu kredit dan barang – barang masa lalu yang tentu saja sudah tidak bisa di gunakan.

Di antara barang – barang tersebut, ada satu yang menarik perhatianku. Kartu nama, bukan kartu nama biasa, tapi kartu nama seorang teman, sahabat, partner, M. Arief Budiman, S.Sn.

Dari jabatan yang tertera di sana “Marketing & Business Development Director” serta disain dan bentuk kartu nama itu, pastilah kartu nama ini di buat dan digunakan di era tahun 2004 an. Tapi di balik kartu nama itu (bener – bener di baliknya) yang kemudian menyadarkan dan mengingatkanku pada kejadian di bulan Juni 2004 lalu dan merupakan jawaban dari misteri yang hampir tidak pernah terungkap.

3 hari menjelang pernikahanku, aku memimpin rapat head hal – hal yang harus dikerjakan oleh pimpinan Departemen dan menyerahkan koordinasi kepada Arief selama aku tinggal cuti. Selesai meeting, aku di antar Arief pulang ke rumah (Naga Asri).

Aku selalu panik jika merasa lapar dan malam itu aku merasa sangat lapar (meski tidak sedang ingat mbak nora) dan mungkin itu merupakan musibah (terbesar kedua setelah mbak nora’s kalee ya). Aku tidak menemukan sepeserpun rupiah, aku masih ingat betul masih ada 20 ribu rupiah di dompetku tadi siang.

Indar sedang berada di rumahnya di Klaten, konyolnya, ATM beserta seluruh uang kami saat itu dia yang pegang, untuk belanja beberapa kebutuhan pernikahan kami.

Akhirnya aku harus berjalan kaki ke rumah pak Budi (Goedang) kira – kira 3 kilo dari rumah, menunggu beliau pulang, menidurkan putra – putranya dan baru akhirnya aku bisa numpang makan di tempat beliau… makasi makasi makasi pak Budi… (kenapa gak terpikir makan di tempat Itok aja yang lebih dekat, atau telpon Lilik atau Andi untuk belikan makanan ya?? Entahlah, mungkin aku tidak mau merepotkan mereka malam itu, atau sudah tidak bisa berpikir karena lapar…) Apapun itu, aku mengutuk diriku sendiri bagaimana aku tidak ingat di mana ku letakkan my last 20 ribu itu…

Dan kali ini, melewati Jl. Godean mengingatkanku kembali atas kenangan itu, ku ceritakan kisah itu kepada pak nDut sambil menunjukkan Kartu Nama sakti sahabatku itu, masih tertulis di sana, di balik kartu nama itu… tulisan yang sangat ku kenal “Goes, sorry ku pinjem duitmu 20 ribu… arief” lengkap berikut tanda tangan nya yang aneh itu (yang berbentuk segitiga serta tulisan arief dalam tulisan arab lho…) hahahaha :) ) (klo nemu scanner ku upload deh…)

Terharu ingat momen itu dan aku tertawa melihat kartu nama konyol itu menjawab pertanyaan yang tidak pernah terjawab itu, setelah 3 tahun berlalu…

some day, kita bikin hal – hal dasyat dan konyol lagi bareng – bareng.

miss you

Leave a Reply