Just Other Side Of Me


Tepung Kentang

Posted in works by Bnoky on the July 8, 2008

Solenium Tuberosum, mereka menyebutnya seperti itu, sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Semula di manfaatkan orang Andes, bangsa Indian, untuk membuat chumo (makanan bangsa Indian). Selanjutnya, Spanyol mulai membawanya ke Amerika 400 tahun kemudian. Di Tahun 1950, Kentang mulai menjadi makanan pokok untuk beberapa bangsa dan bahan boga.

Indonesia, seharusnya sangat bersyukur dengan Iklim dan tanah yang sangat mendukung untuk menanam Kentang. Namun entah mengapa, kita selalu menjadi bangsa yang hampir selalu berpikir terlambat atau malah tidak berpikir sama sekali. Dengan nilai ekspor yang cukup besar, demand yang cukup tinggi, bangsa kita memilih untuk menjual begitu saja kentang – kentang basah kita. Padahal jika mereka mau sedikit bersabar, dan bersedia untuk melakukan proses tambahan mereka akan mendapatkan nilai lebih untuk itu.

Cina, Singapura dan beberapa tetangga kita membutuhkan begitu banyak kentang dan mereka melakukan proses yang saat ini kami lakukan. Selanjutnya seperti hal lain – lainnya, mengirimkannya kembali menjadi produk setengah jadi yang kita konsumsi dengan lebih mahal. Cerita Lama.

Selain kesedihan melihat hal tersebut di atas, ada hal lain lagi yang lebih konyol. Dari beberapa negara di sekitar, Indonesia mempunyai Iklim dan tanah paling top untuk menanam kentang (di kebun kita). Tapi yang menyedihkan adalah, bahkan sampai sekarang, bibit Kentang, Kita harus Import dari Australia. So Sad :(

Sebenarnya tidak terlalu rumit untuk membuat Tepung Kentang.

** Steamer

Di tempat kami, Proses di mulai dengan memasukkan bahan baku kentang basah ke dalam bak kontrol yang kemudian di semprot dengan air bertekanan tinggi. Selanjutnya dengan Ban berjalan di kirim melalu Steamer yang akan membuatnya jadi setengah matang. Proses selanjutnya adalah Crussing untu mengupasnya. Tahap akhir, Kentang akan dikirim ke dalam mesin press bertekanan tinggi dan saat bersamaan uap air akan di hisap keluar. Hasil berupa Tepung akan disimpan ke dalam Silo sebelum di packing

** Vacuum Reactor

Potensial Market… Memang Tepung Kentang saat ini tidak sepopuler batu bara ataupun BBM, tapi jangan salah, bukan hanya profiting from future yang bisa kita impikan, tapi jika kita bersedia kembali menengok sedikit, kenapa kita harus mengekspor ketang mentah dan mengimpor tepung kentang yang membuat harga menjadi selangit. Sementara permintaan dari dalam negeri sudah begitu tinggi.

Beberapa hari yang lalu, salah satu produsen susu bubuk menelpon saya, harga impor Tepung kentang semakin meroket, mencapai $ USD 9 per kilo nya, sementara Tepung Kentang adalah salah satu komponen penting mereka. Mereka meminta kami untuk bisa melayani kebutuhan mereka. Namun sayang, kemampuan modal kami tidak mencukupi untuk menambah kapasitas produksi kami. Saat ini kami hanya mampu memproduksi 200 ton/bulan tepung kentang. Dan jujur seluruhnya kami ekspor ke Singapura. Hal ini kami lakukan untuk bertahan hidup. Metode pembayaran sangat berpengaruh terhadap orientasi penjualan kami, mengingat kemampuan modal kami hanya dengkul dan sedikit tumit. Saya sungguh sangat sedih jika mengingat bahwa saya bahkan tidak mampu membantu mereka untuk tidak lagi menaikkan harga produk susunya.

Itu kenapa hari ini saya posting ini, saya berharap ada Investor – investor yang kemudian tertarik untuk membuka kegiatan usaha sejenis. Paling tidak saya berharap bahwa dalam keadaan yang semakin sulit ini jika harga Minyak semakin meroket menstimulir biaya hidup yang semakin tinggi, harga susu untuk generasi yang akan datang tidak naik juga, syukur kalau bisa turun.

Dan rasanya gak nyaman bertanding tanpa lawan seperti saat ini. We still the only one in this bloody country. Dan konyolnya, kamipun tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Pasti aDa Jalan

Posted in personal, works by Bnoky on the July 2, 2008

Dengan keyakinan yang sedikit keterlaluan, saya mulai membenahinya… Pertama, Sekitar bulan Juli 2007, hampir selama sebulan penuh saya berusaha melobi penguasa daerah untuk bersedia memberikan lagi ijin operasional yang sudah setahun kadaluwarsa. Lalu mulai masuk perpustakaan untuk belajar apa itu kentang dan bagaimana memproses nya menjadi tepung. Mendatangkan beberapa mahasiswa teknik industri untuk belajar mesin – mesin yang kami miliki. Prosesing Unit dan Mekanikal Elekrikal yang terkait dengannya.

Tidak mudah, sangat tidak mudah saya melakukannya saat itu… semua proses melelahkan dalam ketidaknyaman hidup yang sangat luar biasa. Belum lagi membaca berjilid – jilid Undang – Undang Perburuhan, Tata Aturan Niaga perdagangan dan Industri, Mekanisme Ekspor Impor. Semua harus saya pelajari sendiri tanpa mampu mendatangkan ekspertise mengingat kondisi saya saat itu sangat tidak memungkinkan.

Hampir setiap saat keputusasaan berhasil membangunkan saya dari mimpi, hampir setiap saat kemarahan membakar titian langkah yang sedang saya jalani saat itu. Beruntung saya punya beberapa sahabat yang tidak pernah seutuhnya meninggalkan saya.

- FA INNAMA AL USRI USRO FA INNAMA AL USRI USRO – Hanya itu yang tersisa di hati saya saat menjalani semua itu.

Dan… Puji Tuhan, 14 April 2008 – setahun kemudian – hanya di hadiri orang – orang terdekat saya. Prosessing Unit yang telah berhasil kami kalibrasi menghasilkan Tepung Kentang Pertama kami.

Terima Kasih kepada :

Mama, atas doa yang tidak pernah putus untuk saya, Indarwati Priambada, untuk tidak pernah lelah meyakinkan saya dalam keadaan apapun, saya akan mampu melakukannya, Anak – anakku, Raka Ramadhani Priambada dan Arr Rafi Rizky Ramadhan Priambada untuk cahaya harapan yang selalu kalian tampakkan, M. Arief Budiman dan Radetyo Sindhu Utomo, untuk kiriman buku Kun Fayakun serta mengingatkan ku untuk terus mempertahankan keyakinanku, Pak Budi Saputra, penyambung hidup yang selalu bapak kirimkan kepada kami tanpa kata – kata, Tatiana Dian Priambada, untuk Inspirasi dan keberanian yang di berikan

“G I L A”

Posted in Inspiration, personal, works by Bnoky on the June 29, 2008

Tepung Kentang… Kenapa Tepung Kentang? Mau di Jual Kemana? Duit dari mana? Siapa yang mau membantu? Pertanyaan itu yang selalu menyapa saat saya harus menjelaskan kepada berbagai pihak tentang rencana ini. Jujur, pertama kali saat saya melihatnya, saya juga tidak begitu yakin dengan apa saya lakukan.

Industri… Tepung Kentang… Mahal… Iklim Investasi Lesu

* Industri… sebuah lahan yang belum tersentuh oleh saya sebelumnya. Tidak ada pengetahuan apalagi pengalaman dalam bidang ini

* Tepung Kentang… jangankan Tepung Kentang, Tepung Terigu saja bisa di hitung dengan jari saya melihatnya

* Mahal… Membeli sebuah Pabrik? Dengan kondisi saya, membeli pabrik ini adalah sebuah impian di tengah hari bolong… Mimpi mas :p

* Iklim Investasi Lesu… 2007 – 2008, mungkin mimpi paling buruk Negeri ini untuk semua kegiatan usaha, apalagi memulai kegiatan usaha. Harga minyak yang tidak terkendali, biaya hidup yang semakin tinggi, Krisis energi di mana – mana…

Kepala saya rasanya sangat berat dan perut mual jika mengingat kembali saat – saat itu – 27 Mei 2007 – saat akhirnya dengan komposisi seimbang antara harapan dan keputusasaan, saya putuskan untuk membeli pabrik ini.

Selanjutnya melakukan ritual egosentris yang selalu saya lakukan saat saya me – recharge energi saya. Tidak menonton atau membaca berita buruk hanya berita gembira dan gosip – gosip bahagia. Tidak membaca buku – buku motivasi, tidak melihat Iklan dan tidak mendengar musik dalam birama 4/4 bernada dasar minor. Stop Film Indonesia dan jauhi Sinetron.

Seminggu setelah melakukan ritual tersebut saya melakukan apa yang harus saya lakukan… Memotong rumput yang sudah tumbuh tinggi di lingkungan pabrik, membersihkan halaman seluas 47.200 m2 dan mengecat kantor. Semua kami lakukan hanya bertiga… dengan 2 sahabat saya, tentunya dengan semangat ‘67 sambil mendengarkan pidato Bung Karno dan iringan musik Rolling Stone.

First sight, first shoot, kuasai Teknologi Informasi… Tanam teknologi terbaru dalam semua data prossesing. Plasma – Inti, dalam pengadaan bahan baku, tidak tergantung pada sesuatu yang tidak dalam kendali. Konversi Sumber Energi dari PLN dengan membuat Power Plant dengan bahan bakar Minyak Jarak. Solar Cell di atap Main Office Building untuk sumber Energi bagi peralatan elektronik pendukung operasional…

Semua itu yang tertulis dalam kerangka awal proposal Investasi yang saya susun dan ku sampaikan pada seorang teman yang tahu persis kondisiku saat itu, hasilnya?

Friend says :

“Kamu adalah manusia pemimpi dalam kebutaan, Sakit Jiwa, Kram Otak, Rusak Permanen… J

Dan aku menjawabnya :

“Kenapa Tepung Kentang? Karena Pabrik ini adalah satu – satunya Pabrik Tepung Kentang dalam kapasitas Industri di Indonesia…”

friend says :

“G I L A”

*Welcome to Trimitra Era Sejahtera, PT

bajingan tua & pahlawan kesiangan

Posted in personal, works by Bnoky on the August 5, 2007

Suatu Ketika seorang sahabat cerewet bertanya kepada saya,

kenapa saya sangat membencinya?
Saya menjawab, “karena dia punya 7 dosa besar yang tak termaafkan”

  • BAJINGAN TUA itu tidak melaksanakan hasil keputusan rapat Head tanggal 9 Januari 2006 tentang adjustment pada Account 4423xx dari kesalahan input data yang dilakukan oleh stafnya
  • BAJINGAN TUA itu tidak melaporkan secara terperinci nomer account kepada saya atas journal transaksi gantung senilai Rp. 100.000.000,00 yang tersebar pada account 4424xx – 4429xx, hingga detik terakhir saya harus menyerahkan kewenangan pada pimpinan yang baru. Dan konyolnya lagi BAJINGAN TUA itu berhasil memojokkan saya (lihat dosa ke 4) untuk menyebutkan istilah “perputaran” mewakili kata selisih dana tersebut pada penjelasan laporan pertanggungjawaban hanya untuk memberikannya waktu lebih dapat menyelesaikan ketidakbecusannya menyiapkan Laporan Akhir Tahun tepat pada waktunya.
  • BAJINGAN TUA itu tidak melakukan penjelasan dan sanggahan apapun pada saat pimpinan yang baru melakukan koreksi silang antara catatan perusahaan dan catatan suplier perusahaan dan menemukan selisih “lebih” pada catatan perusahaan. Sebenarnya hal itu menjelaskan kenapa terdapat journal gantung pada laporan akhir tahun 2005 itu. Tapi entah BAJINGAN TUA itu sengaja membuatnya menjadi “harta karun” atau pimpinan baru yang tidak begitu memahami kalimat “selisih lebih” (yang pasti saya masih percaya bahwa pimpinan yang baru tidak dengan sengaja mengabaikannya sebagai unsur pengurang beban)
  • BAJINGAN TUA itu tidak meminta persetujuan saya saat memindahkan dana sebesar Rp. 131.500.000,- (kurang lebih) dari account no 4430xx ke account no 4431xx atas nama BAJINGAN TUA itu sendiri dan baru melaporkannya kepada saya sesaat setelah rapat Head tanggal 9 Januari 2006, dan entah dengan sengaja atau tidak membuat saya mati kutu tidak memiliki waktu untuk melakukan revisi terhadap laporan tersebut mengingat D – Day tinggal sehari lagi dengan seluruh materi penjelasan laporan telah dia siapkan.
  • BAJINGAN TUA itu entah dengan cara apa berhasil menghilangkan account 4100xx atas nama TUHAN YANG MAHA ESA dan baru saya sadari saat para pimpinan perusahaan (sahabat – sahabat saya) mengunjungi saya di pengasingan yang menyampaikan bahwa ada tambahan beban kepada saya sebesar Rp. 12.500.000,- dari Pak Hien yang entah dengan mekanisme seperti apa bisa dibebankan kepada saya. (Mungkin karena saya tidak berada di tempat sehingga mudah membebankan kepada orang yang tidak bisa bicara)
  • ANJING TUA (BAJINGAN TUA = ANJING TUA) itu selalu menjawab “TIDAK TAHU” jika (setiap saya tidak berada di tempat) di tanya oleh Dewan Direksi tentang aliran dana “besar” yang masuk ke perusahaan melalui saya. Bagaimana mungkin ANJING TUA itu tidak tahu, jelas dalam sidang KLARIFIKASI II menghadirkan dia sebagai salah satu narasumber dan ANJING TUA itu sendiri mengatakan : >> Dalam tahun anggaran 2005 perusahaan mengalami kekurangan anggaran sebesar Rp 270.000.000,00 dari RKAP hasil Retreat BOD tahun sebelumnya >> Terjadi kelebihan belanja Investasi baik fix asset ataupun integable asset baik di anggaran tahun 2005 dan pelimpahan beban kelebihan investasi periode tahun sebelumnya terdiri dari belanja pegawai (retreat bali 2004), pembelian kendaraan dinas baru dan belum termasuk investasi dan re investasi peralatan kerja, up grade komputer dan pemasangan tower koneksi internet >> Recovery pinjaman PIHAK III jangka panjang dari salah satu BUMN sebesar Rp. 125.000.000,00 tidak dapat dialokasikan secara maksimal sebagai working capital, beberapa kebutuhan mendesak seperti Biaya di bayar di muka (sewa kantor – September 2004) piutang karyawan dan sebagian beban kerugian anak perusahaan periode sebelumnya mengambil “sebagian besar” dana tersebut. >> Dan bagimana seekor ANJING TUA bisa mengatakan TIDAK TAHU kemana aliran dana tersebut yang notabone dia sendiri yang melaksanakan secara teknis seluruh pembayaran – pembayaran tersebut.
  • ANJING TUA (BAJINGAN TUA = ANJING TUA) itu jelas paham “ping pong” dana yang saya lakukan menimbulkan beban Capital Cost yang seluruhnya saya tanggung secara pribadi dan setiap KEBISUANNYA “memperjuangkan” penarikan dana saya (setelah perpindahan kewenangan alokasi dana) diperusahaan merupakan sebuah bom waktu bagi saya.

Minum air putuh sik…

Sahabat cerewet itu bertanya lagi, “lalu apakah menurut saya dia lah yang menyebabkan berbagai kesulitan hidup yang saya hadapi di tahun – tahun setelahnya?”

Saya menjawab… “BAJINGAN TUA?? O o o.. TIDAK.. TIDAK.. TIDAK.. segala kesulitan yang saya alami setelahnya hanya karena saya berlagak menjadi Pahlawan yang tidak bisa bangun terlalu pagi… sama sekali tidak disebabkan olehnya