Just Other Side Of Me


mAafkan saya ma…

Posted in personal, romance, short story by Bnoky on July 7, 2008

Mama gak pernah menganggapnya seperti itu… Mama cuma mau lihat seperti saat baru kembali dari Jogja. Tidak lama mama menikmati hasilnya. Mama didik, mama berikan kasih sayang, mama berikan semua yang masih mungkin untuk mama berikan meski mama sangat sadar ada banyak kekurangan dari mama yang sangat tidak dia sukai.

Dia Mutiara mama… satu – satunya yang mama miliki setelah Papa dan Kakaknya pergi. Mama tidak pernah menuntut lebih, apalagi menyalahkannya atas kondisi mama. Tapi Mama juga tidak ingin kemudian dia tidak menganggap sama sekali apa yang sudah kami lakukan bersama – sama selama 28 Tahun ini tidak ada artinya.

Mama juga lelah… Saat mama berbicara, berusaha memberi pengertian kepadanya, yang dilakukannya selalu berteriak, yang dilakukannya menyakiti dirinya sendiri. Lalu bagaimana dia bisa mengerti apa sebenarnya yang mama inginkan? Apa sebenarnya yang ada di dalam hati mama? Harapan mama tentang dirinya? Jika belum apa – apa dia sudah tutup telinganya, tutup matanya, tutup hatinya untuk melihat, mendengar dan merasakan sebuah kenyataan bahwa memang dia sudah berubah jauh kebelakang .

Memang benar… Sudah kewajiban seorang ibu memang jika memberikan bekal yang terbaik untuk masa depannya. Sehingga mama dalam usia mama, harus bekerja membanting tulang paling tidak agar kebutuhan dasar untuknya selama menimba pengalaman dapat tercukupi. Dan mama sudah dengan Ikhlas melakukannya sendirian sejak Papa meninggal. Tapi apakah bukan Hak seorang Ibu mempertanyakan hasilnya dia mencari bekal? Mempertanyakan peningkatan, kemajuan dalam hidup dan kehidupan? Salah besar jika dia berpikir bahwa mama minta apa yang sudah mama berikan di ganti dan di kembalikan dalam bentuk Rupiah. Salah besar jika dia berpikir bahwa apa yang sudah mama berikan harus di ganti dengan barang… apalagi kalau bilang mama matre…

Belajar? Berkarya?… Bolehlah dia menyebut nyebut seperti itu, tapi mama tidak buta, mama tidak tuli. Dan mama yang mengasuhnya sejak dia dilahirkan di dunia ini, menyusuinya, membesarkannya. Dan selama dia menganggap ada hal lain yang bisa memberikan kebahagiaan kepadanya dan mama menghalanginya itu yang mama sebut sebagai kemunduran. Dia tidak melihat apa yang dia lihat, dia tidak mendengar apa yang dia dengar… Hatinya telah dibutakan oleh sesuatu yang sampai sekarang tidak bisa mama mengerti apa dan bagaimana.

Hanya sebulan sejak dia pulang, mama menikmati apa yang telah dia capai dalam menimba ilmu dan pengalaman. Lalu dia berubah seperti sekarang yang kalau mama bilang, lupa umur lupa kedewasaan… Dan mama dipaksa menerima keadaan itu karena dia akan mulai menyakiti dirinya sendiri jika mama mulai mengajaknya untuk berpikir secara dewasa sesuai umur yang sebenarnya. Berkelakuan sesuai umur yang sebenarnya, bukan terpaksa mengikuti sesuatu yang mana memang belum saatnya.

Jika menilai seperti itu berarti dia memang sudah mundur kebelakang… Mendinginkan apa? Dia merasa bisa karena memang tidak tahu apa – apa, Mencairkan apa? Dia merasa bisa karena memang belum saatnya. Tapi itu semua kan mimpi? Dia lupa, bahwa sebenarnya dia tidak butuh pencair, dia tidak butuh pendingin, dia sudah memiliki segalanya dalam dirinya… dia sudah memiliki figur seperti apapun di dalam keluarganya.

Itu dia contohnya yang mama bilang sebagai kemunduran… Cara mama berbicara memang seperti itu dan tidak pernah ada masalah selama ini. Hanya sejak dia berpikir menemukan sebuah es dalam kobaran api saja dia berpikir seperti itu. Kenapa dia tidak mengingat bahwa dari dulu mamanya juga seperti ini kalau bicara. Tidak ada yang berubah.

Yaaa… Kalau seperti itu semua orang di sini juga seperti itu. Siapa yang tidak bisa? Tidak mikir, tidak peduli, tidak paham, tidak empati… itu yang mama sebut sebagai kemunduran… Karena dia yang akhirnya harus terus membimbing, karena toh kenyataannya dia lebih dewasa, lebih berpengalaman, lebih berilmu. Dia jadi lupakan dirinya sebagai seorang anak, sebagai seorang figur sosial, sebagai orang dengan bekal yang lebih dan sebagai hamba dari Tuhan…

Saat ini?… Mama hanya ingin dia punya keberanian untuk kembali dekat dengan Tuhan. Hanya itu…

Dan ingat satu hal ya nak, terima kasih sudah memberi kesempatan mama untuk marah… kebetulan mama memang sedang ingin sekali marah. Ada rasa kadang Mama ingin salahkan anak, karena mama pikir akhirnya mama kehilangan domba mama karena anak. Kita sudah pernah bicarakan hal ini jauh sebelum kejadian, dan toh nyatanya anak sudah tahu bahwa dia tidak bisa sendiri, tidak mampu sendiri. Lalu kenapa membiarkannya pergi? Dan saat kejadian itu baru saja berupa tanda – tanda, berulang kali mama bilang, Datanglah!!! tapi anak tidak ada pernah datang… Memang tidak menginginkannya di awal, kalian melakukan sebuah kesalahan dalam memulai hubungan, bagaimanapun itu tidak baik. Tapi meski mama tidak melihat, mama tidak mengikuti prosesnya, toh mama lihat kenyataannya… hasilnya… mama sempat melihat domba mama menjadi seorang putri yang pernah almarhum papanya harapkan…

Tapi sudahlah… tidak ada yang bisa mama lakukan sekarang, bantu mama doa , agar dia kembali dekat dengan Tuhannya, dia punya lagi teman – teman yang sepadan dengannya yang bisa membawanya di mana dia seharusnya berada.

Semoga tangan Tuhan bersedia menyentuhnya…

* * *

Maafkan saya ma…
- speechless -

2 Responses to 'mAafkan saya ma…'

Subscribe to comments with RSS

  1. M Hartanto said,

    maaf lho Mas Priambada ini Agamanya apa sih ?kok tahu petikan salah satu ayat dalam Al qur’an,yang artinya kalau nggak salah sesudah kesulitan ada kemudahan.Allah itulah nama Tuhan saya, tiada Tuhan selain Allah.apapun yang kita persembahkan untuk ibu tidak akan setara walaupundengan hanya setetes air susu nya yang kita hisap.

  2. Bnoky said,

    Saya moslem pak Hartanto, dan saya sangat setuju jika apapun yang kita beri tidak akan setara dengan setetes air susu yang kita hisap. Thx 4 the comment


Leave a Reply