We arE all penCils in the hand of God
Sabtu siang, dari Juanda sepulang dari jakarta aku sempatkan mengunjungi Indar di kantornya. 6 bulan tidak bertemu, tidak banyak yang terlihat berubah darinya, straight and teges… senyum riangnya, perubahan air mukanya saat dia tidak nyaman, cara bicaranya, hampir semuanya sama… profesi pialang saham yang identik dengan dunia malam saat mereka gain the point yang kini jadi dunia nya tidak banyak merubah dirinya.
Tidak lama, hanya mampir dan berbincang ringan tentang keadaan dirinya dan anak – anak, saat berpamitan tiba, dia menulis sesuatu di kertas dan diletakkan disakuku… dia berpesan hanya boleh di buka jika aku merasa sendiri.
Sambil berjalan ke tempat parkir ku membayangkan kembali kebersamaan kami yang memang tidak banyak dapat kuingat lagi setelah semua ini.
Hari ini empat tahun yang lalu, pertama kalinya kulihat senyum tercantiknya, terkembang di antara jabat erat tulus para sahabat dan peluk erat restu orang tua…
Tidak ada kata lain yang bisa ku ucapkan saat ini, betapa aku sangat bersyukur ada disana saat itu, karena kita tidak pernah tahu yang akan terjadi setelah hari itu.
Dia selalu ada, dalam susah dan senang bukanlah sebuah kiasan.
Ketabahannya, membuatnya bertahan menanggung luka akibat keyakinanku
Kesabarannya, membuatnya mampu terus mengobarkan semangatku untuk meraih obsesiku
Ketulusannya, membuatnya rela dan yakin untuk melepasku pergi mengejar hasratku
Tidak banyak yang dapat kuingat saat ini tentang kami, tapi ada hal yang mungkin tak pernah dapat ku lupa tentang dirinya.
Tidak kulupa apa yang dia tulis dan tempel di Lemari es kami saat ku mulai berlagak menjadi pahlawan kesiangan…
“It is one of the most beautiful compensations of this life that no man can sincerely try to help another without helping himself…”
Tidak juga bisa ku lupa saat di titik nadir terendah ku kehilangan segalanya, ku bertanya padanya, “kenapa saat seluruh cobaan hidupku hampir berakhir, muncul lagi persoalan baru yang jauh dari anganku untuk kehilangan lagi…?”
“The man who has no problems is out of game..” – sms ini masih ayah simpen lho bun,..
-
Belum lagi caranya untuk meyakinkanku bahwa anak- anak kami dalam kondisi baik – baik saja serta terus dan terus mengingatku saat kami telah jauh dan agar aku tidak terlalu khawatir dengan mereka… Dia menuliskan semacam puisi… – atau emang puisi to bun? hehehe, it wasn’t other side of you… it was really you –
Bersyukur, seharusnya itu yang ku lakukan… saat menyadari betapa hal – hal kecil itu sangat berarti buatku. Hal – hal itu yang membuatku pernah kuat bertahan menghadapi segala persoalan hidup yang sepertinya tidak kunjung berakhir.
Tidak pernah aku bisa berpikir bagaimana semua ini bisa terjadi, saat semua hal telah kupersiapkan, kulaksanakan dengan sungguh – sungguh, berusaha membuat setiap orang yang memang patut bahagia untuk dibahagiakan, tapi rasanya selalu saja ada yang salah… Apakah setiap saat keyakinan harus berubah, apakah setiap saat mimpi harus sama? Entahlah, aku sangat ingin jauh dari memikirkan hal – hal yang aku tidak pernah tahu dengan sebenarnya apakah ada jawaban untuk semua hal yang pernah terjadi…?
Bukan aku kalau tidak selalu penasaran… Sesampai di mobil, ku buka kertas kecil yang tadi diselipkan olehnya di kantongku… (kok tulisan tanganmu masih jelek to bun
)
“…Dear ayah, “We are all pencils in the hand of God” yang terus menuliskan kisah yang akan menjadi sejarah… Jangan pernah berhenti berharap, yakinlah pada mimpi ayah karena itu begitu nyata. Lakukan apa yang ayah yakini bukan apa yang ayah inginkan dan jangan pernah berhenti meski otak dan hati ayah begitu lelah… Life is like riding becycle. You don’t fall off unless you stop pedalling”
Love,
Bunda
Sampai aku posting, aku belum juga bisa menghentikan air mata buaya ini…
tiba – tiba saja aku merasa begitu rapuh.. begitu banyak apa yang telah dia beri meski hampir setiap saat aku menyakitinya… hampir setiap saat…