“G I L A”
Tepung Kentang… Kenapa Tepung Kentang? Mau di Jual Kemana? Duit dari mana? Siapa yang mau membantu? Pertanyaan itu yang selalu menyapa saat saya harus menjelaskan kepada berbagai pihak tentang rencana ini. Jujur, pertama kali saat saya melihatnya, saya juga tidak begitu yakin dengan apa saya lakukan.
Industri… Tepung Kentang… Mahal… Iklim Investasi Lesu
* Industri… sebuah lahan yang belum tersentuh oleh saya sebelumnya. Tidak ada pengetahuan apalagi pengalaman dalam bidang ini
* Tepung Kentang… jangankan Tepung Kentang, Tepung Terigu saja bisa di hitung dengan jari saya melihatnya
* Mahal… Membeli sebuah Pabrik? Dengan kondisi saya, membeli pabrik ini adalah sebuah impian di tengah hari bolong… Mimpi mas :p
* Iklim Investasi Lesu… 2007 – 2008, mungkin mimpi paling buruk Negeri ini untuk semua kegiatan usaha, apalagi memulai kegiatan usaha. Harga minyak yang tidak terkendali, biaya hidup yang semakin tinggi, Krisis energi di mana – mana…
Kepala saya rasanya sangat berat dan perut mual jika mengingat kembali saat – saat itu – 27 Mei 2007 – saat akhirnya dengan komposisi seimbang antara harapan dan keputusasaan, saya putuskan untuk membeli pabrik ini.
Selanjutnya melakukan ritual egosentris yang selalu saya lakukan saat saya me – recharge energi saya. Tidak menonton atau membaca berita buruk hanya berita gembira dan gosip – gosip bahagia. Tidak membaca buku – buku motivasi, tidak melihat Iklan dan tidak mendengar musik dalam birama 4/4 bernada dasar minor. Stop Film Indonesia dan jauhi Sinetron.
Seminggu setelah melakukan ritual tersebut saya melakukan apa yang harus saya lakukan… Memotong rumput yang sudah tumbuh tinggi di lingkungan pabrik, membersihkan halaman seluas 47.200 m2 dan mengecat kantor. Semua kami lakukan hanya bertiga… dengan 2 sahabat saya, tentunya dengan semangat ‘67 sambil mendengarkan pidato Bung Karno dan iringan musik Rolling Stone.
First sight, first shoot, kuasai Teknologi Informasi… Tanam teknologi terbaru dalam semua data prossesing. Plasma – Inti, dalam pengadaan bahan baku, tidak tergantung pada sesuatu yang tidak dalam kendali. Konversi Sumber Energi dari PLN dengan membuat Power Plant dengan bahan bakar Minyak Jarak. Solar Cell di atap Main Office Building untuk sumber Energi bagi peralatan elektronik pendukung operasional…
Semua itu yang tertulis dalam kerangka awal proposal Investasi yang saya susun dan ku sampaikan pada seorang teman yang tahu persis kondisiku saat itu, hasilnya?
Friend says :
“Kamu adalah manusia pemimpi dalam kebutaan, Sakit Jiwa, Kram Otak, Rusak Permanen… J “
Dan aku menjawabnya :
“Kenapa Tepung Kentang? Karena Pabrik ini adalah satu – satunya Pabrik Tepung Kentang dalam kapasitas Industri di Indonesia…”
friend says :
“G I L A”
*Welcome to Trimitra Era Sejahtera, PT
We arE all penCils in the hand of God
Sabtu siang, dari Juanda sepulang dari jakarta aku sempatkan mengunjungi Indar di kantornya. 6 bulan tidak bertemu, tidak banyak yang terlihat berubah darinya, straight and teges… senyum riangnya, perubahan air mukanya saat dia tidak nyaman, cara bicaranya, hampir semuanya sama… profesi pialang saham yang identik dengan dunia malam saat mereka gain the point yang kini jadi dunia nya tidak banyak merubah dirinya.
Tidak lama, hanya mampir dan berbincang ringan tentang keadaan dirinya dan anak – anak, saat berpamitan tiba, dia menulis sesuatu di kertas dan diletakkan disakuku… dia berpesan hanya boleh di buka jika aku merasa sendiri.
Sambil berjalan ke tempat parkir ku membayangkan kembali kebersamaan kami yang memang tidak banyak dapat kuingat lagi setelah semua ini.
Hari ini empat tahun yang lalu, pertama kalinya kulihat senyum tercantiknya, terkembang di antara jabat erat tulus para sahabat dan peluk erat restu orang tua…
Tidak ada kata lain yang bisa ku ucapkan saat ini, betapa aku sangat bersyukur ada disana saat itu, karena kita tidak pernah tahu yang akan terjadi setelah hari itu.
Dia selalu ada, dalam susah dan senang bukanlah sebuah kiasan.
Ketabahannya, membuatnya bertahan menanggung luka akibat keyakinanku
Kesabarannya, membuatnya mampu terus mengobarkan semangatku untuk meraih obsesiku
Ketulusannya, membuatnya rela dan yakin untuk melepasku pergi mengejar hasratku
Tidak banyak yang dapat kuingat saat ini tentang kami, tapi ada hal yang mungkin tak pernah dapat ku lupa tentang dirinya.
Tidak kulupa apa yang dia tulis dan tempel di Lemari es kami saat ku mulai berlagak menjadi pahlawan kesiangan…
“It is one of the most beautiful compensations of this life that no man can sincerely try to help another without helping himself…”
Tidak juga bisa ku lupa saat di titik nadir terendah ku kehilangan segalanya, ku bertanya padanya, “kenapa saat seluruh cobaan hidupku hampir berakhir, muncul lagi persoalan baru yang jauh dari anganku untuk kehilangan lagi…?”
“The man who has no problems is out of game..” – sms ini masih ayah simpen lho bun,..
-
Belum lagi caranya untuk meyakinkanku bahwa anak- anak kami dalam kondisi baik – baik saja serta terus dan terus mengingatku saat kami telah jauh dan agar aku tidak terlalu khawatir dengan mereka… Dia menuliskan semacam puisi… – atau emang puisi to bun? hehehe, it wasn’t other side of you… it was really you –
Bersyukur, seharusnya itu yang ku lakukan… saat menyadari betapa hal – hal kecil itu sangat berarti buatku. Hal – hal itu yang membuatku pernah kuat bertahan menghadapi segala persoalan hidup yang sepertinya tidak kunjung berakhir.
Tidak pernah aku bisa berpikir bagaimana semua ini bisa terjadi, saat semua hal telah kupersiapkan, kulaksanakan dengan sungguh – sungguh, berusaha membuat setiap orang yang memang patut bahagia untuk dibahagiakan, tapi rasanya selalu saja ada yang salah… Apakah setiap saat keyakinan harus berubah, apakah setiap saat mimpi harus sama? Entahlah, aku sangat ingin jauh dari memikirkan hal – hal yang aku tidak pernah tahu dengan sebenarnya apakah ada jawaban untuk semua hal yang pernah terjadi…?
Bukan aku kalau tidak selalu penasaran… Sesampai di mobil, ku buka kertas kecil yang tadi diselipkan olehnya di kantongku… (kok tulisan tanganmu masih jelek to bun
)
“…Dear ayah, “We are all pencils in the hand of God” yang terus menuliskan kisah yang akan menjadi sejarah… Jangan pernah berhenti berharap, yakinlah pada mimpi ayah karena itu begitu nyata. Lakukan apa yang ayah yakini bukan apa yang ayah inginkan dan jangan pernah berhenti meski otak dan hati ayah begitu lelah… Life is like riding becycle. You don’t fall off unless you stop pedalling”
Love,
Bunda
Sampai aku posting, aku belum juga bisa menghentikan air mata buaya ini…
tiba – tiba saja aku merasa begitu rapuh.. begitu banyak apa yang telah dia beri meski hampir setiap saat aku menyakitinya… hampir setiap saat…
we don’T know each other
“mencoba mencari jalan yang sebenarnya itu bukan jalan yang semestinya…
semua jalan setapak hilang yang ada hanya hutan belantara…
tertusuk, tersayat, tapi harus di buka jalan itu…”
“mungkin bila kita saling berbicara tentang sulitnya kita bersatu
kita akan mengeluarkan air mata bersama…..
sesuatu cinta yang terhalang dan butuh pengorbanan
….untuk melewatinya….”
Wahyunie Priambada
We both are definitally same, but we don’t know each other
Jogja, 8 Juni 2008
Rasanya ada yang aneh melangkahkan kaki kembali di kota ini. Seperti melihat wajah – wajah asing yang tidak ku kenal, tempat – tempat baru yang tidak pernah ku lalui tapi semua tampak begitu nyata, begitu familiar…. De Javu
Selesai menyelesaikan beberapa urusan di Jogja, seiring kesadaranku meningkat, di temani pak Ndut (ASA taksi ‘90)… memori ku perlahan meng – update kenangan – kenangan yang ada di setiap tempat yang ku lalui. Sengaja ku minta pak nDut membawa kemanapun dia pernah mengantarku tahun – tahun sebelum ini.
Hampir semua tempat kukenal dengan baik,
dari Airport sampai dengan Godean,
dari Parangtritis sampai Kaliurang…
Beberapa tempat yang kami lalui samar – samar memunculkan kembali beberapa kejadian yang pernah ku alami. Beberapa tempat lainnya mempunyai memori yang sangat kuat sekali.
Ada banyak kisah di kota ini yang dapat membuatku menangis, ada banyak kisah juga di kota ini yang dapat membuatku tertawa, tapi mungkin hanya ada beberapa kisah di kota ini yang membuatku menangis sambil tertawa…
Malam itu ku menginap di rumah Agung di Jl. Monjali dan pagi – pagi kembali ke Jakarta. Hanya sehari di kota ini, membangkitkan kenangan lebih dari setengah perjalanan hidupku.
Jogjakarta, where the memories keep alive
Read more on, Menangis & Tertawa pages
little eyEs upon you
There are little eyes upon you
And they are watching night and day
There are little ears that quickly
Take in every word you say
There are little hands all eager
To do anything you do
And a little boy who’s dreaming
Of the day he ll be like you
You are the little fellow’s idol
You are the wisest of the wise
In his little mind about you
No suspicions ever rise
He believes in you devoutly
Holds all you say and do
He will say and do, in your way
When he’s grown up just like you
There’s a small eyed little fellow
Who believes you are always right
And his eyes are always opened
And he watches day and night
You are setting an example
Every day in all you do
For the little boy who’s waiting
To grow up to be like you
- bunda
