Selamat hari Ibu
Sangat menarik profil – profil yang kubaca malam ini, menjelang terbit RMI edisi VII tahun 2007, yang bertepatan dengan peringatan hari ibu 22 Desember 2007 dalam kolom profile yang memang kami siapkan untuk mengangkat sosok wanita, ibu dan istri dari pria – pria berhasil dari berbagai profesi di Surabaya.
Kriteria profil edisi ini sengaja saya tetapkan bukan seorang wanita pekerja, karier ataupun wanita berhasil lainnya secara publik. Saya menginginkan seorang wanita yang tidak dikenal, tidak berprestasi dan sangat biasa. Dan ternyata saya harus menghabiskan seluruh malam ini untuk menentukan yang paling biasa diantara mereka. Sangat tidak mudah. Entah karena profil tersebut telah tersaji dalam ulasan yang luar biasa, entah karena para wartawan dan redaktur kami sangat jeli dan pandai dalam mengolah kata, apapun itu, dalam ke”biasaan” yang saya tuntutkan, saya temukan keluarbiasaan yang membuat saya harus memanggil redaktur profil malam itu untuk membantu saya memutuskan yang terbaik dari mereka. Dan saat matahari pagi menyapa, barulah kami bisa memutuskan satu dari sekian wanita “luar biasa” ini sebagai profil RMI edisi VII.
Mereka sangat tidak tampak, saat mereka berada disamping suaminya yang sangat powerfull, mereka bukan siapa – siapa ditengah anak – anaknya yang penuh prestasi, mereka tidak dikenal oleh orang – orang disekelilingnya, dan mereka bukanlah siapa – siapa.
Tapi membaca kisahnya kami menyadari, bahwa tidak ada laki-laki hebat yang ada disekelilingnya, tidak ada generasi penuh kualitas dalam keluarganya tanpa kehadirannya.
Tidak menarik dan sering saya lewatkan alinea – alinea diawal yang bercerita tentang kegiatan sebagai pendamping dari orang yang powerfull, kegiatan sosial, salon, tampil anggun saat mendampingi sang suami, kunjungan – kunjungan, bisnis dan berdiskusi dengan rekan – rekan sejawatnya, terlalu biasa dan setiap wanita akan mampu melakukannya. Namun membaca alinea berikutnya yang menceritakan flash back kehidupan sebelumnya membuat saya seakan dalam dunia khayal dan saya yakin lebih dari setengah hal yang tertulis disana saat ini hampir tidak pernah di ketahui apalagi di ingat oleh siapapun.
Mendengar, menyemangati, menyabarkan dan berdoa… hanya itu yang mereka jagauntuk mereka lakukan meski sesaknya hidup menghimpit mereka.
Bersedia mendengarkan segala kisah sang kekasih menyadari tidak akan ada orang lain yang bersedia mendengarkan kisahnya saat dia bukanlah siapa – siapa. Selalu menyemangati setiap hal yang sedang dan akan dilakukan sang kekasih menyadari segala hal yang akan diraih adalah sebuah mimpi yang tidak mudah untuk diwujudkan. Selalu menyabarkan setiap kegagalan menghentikan sesaat langkah sang kekasih.
Dan mereka melakukan semua itu meski keadaan tidak jauh dari berbagai tekanan. Mereka harus bekerja, berpikir dan hidup dalam sebuah kenyataan untuk mempertahankan kehidupannya sementara sang kekasih sibuk berperang dengan dirinya sendiri untuk menyerah dengan keadaan atau mempertahankan “mimpi” itu tetap hidup. Mereka terus memberikan dukungan dalam buaian lembut bibir seorang wanita saat mereka sendiri di himpit “takdir” kehidupan yang terus hadir dalam berbagai rupa dan bentuk.
Keyakinan itu akhirnya membuahkan keindahan, kekasih hati yang kini telah menjadi suaminya behasil mewujudkan mimpi itu, mimpi yang sejak awal tidak begitu mereka pahami. Mereka hanya memiliki keyakinan bahwa mimpi di dalam mimpi kekasihnya ada mimpinya.
Beberapa saat saya termenung menyadari para suami itu tidak akan menjadi seperti sekarang tanpa sosok istri yang begitu “kuat” ada disampingnya.
Luar biasa apa yang telah mereka lakukan… Selamat hari ibu, semoga gadis – gadis remaja yang saat ini tengah memadu kasih bisa meneladani apa yang telah mereka lakukan, karena begitu besarnya peran yang akan mereka mainkan dalam mewarnai keberhasilan sosok disampingnya.
