Tanpa angan, tanpa praduga, tanpa janji, tanpa mimpi, tanpa tanda kita akan bertemu kembali… di tempat yang jauh di mana seharusnya kita berada, di tempat yang tidak pernah terpikir oleh kita untuk bertemu…
Dalam waktu yang sangat terbatas. Sudah sangat lama rasanya waktu menghapus jejakku, sudah lama sekali sesaknya hidup menghapus ingatanku padamu… Setelah saling menyapa dan bertanya kabar, masih sempat kita saling bercerita tentang berbagai hal di waktu lalu, beberapa diantaranya pernah membuat kita tertawa, beberapa diantaranya pernah membuat kita menangis satu diantaranya membuatku harus meninggalkanmu sendiri menghadapi kerasnya hidup yang kau sebut sebagai “saat takdir menyapamu.”
Terucap pula olehmu kalimat terakhir yang pernah kuucapkan tiga tahun silam kepadamu, “dengan mudah kamu akan melupakanku dan tak lebih dari sebulan kau akan mendapatkan pengganti diriku, seseorang yang dapat memenuhi segala ambisimu, memberikan secara instan eksistensi dilingkunganmu, memuaskan kehausan akan martabat orang disekelilingmu meski dengan menjual rasa di hatimu, seseorang yang tidak terlalu istimewa dan hanya ada di saat yang sangat tepat menyapamu ditengah kerapuhan hati…”
Ku terpingkal mendengar dan melihatmu dengan kocak menirukan setiap kata itu persis seperti saat ku mengucapkannya tiga tahun lalu dengan mimik dan gerak tubuh mirip seseorang yang setiap saat kulihat dalam cermin saat ku berada didepannya. Tapi selanjutnya ku mulai terdiam saat kau lanjutkan kisahmu, saat kamu harus “sendiri” memenuhi segala kebutuhan hidupmu, bertahan dengan bekerja di tempat yang kutau sama sekali jauh dari anganmu dan disaat sama kamu harus menghadapi ketidaknyaman yang diberikan oleh orang – orang terdekatmu. Saat kutanya tentang hubunganmu dengan seseorang yang istimewa, masih dengan gaya yang pernah sangat kukenal, pandangan mata dan nada suara yang sangat tenang, tanpa mengusik egomu, kau katakan “belum kutemukan orang yang terbaik sebagai penggantimu” Elegant…
Bukan itu yang begitu mengusik pikiranku saat akhirnya waktu mengakhiri perjumpaan ini, tapi tak mampu lagi kubayangkan kisah perjuanganmu meraih prestasi ini dengan ketidaknyamanan dari orang – orang terdekatmu, pekerjaan yang jauh dari angan dan kelayakan dan segala tekanan yang kutau selalu datang kepadamu, semuanya mampu kamu lewati “sendiri” tanpa mengemis, merengek, merajuk, mengeluh… “….. SALUTE …..”
Meskipun tanpa kata, tapi baju kebesaran Wisuda Pasca Sarjana yang kau kenakan saat ini tetap bercerita tentang segala keteguhan hati, kekuatan jiwa atas sebuah kepercayaan, keyakinan dan obsesi yang tertanam kuat dalam hati. BAIQ ELLYSE ISWANDARI MUSTARITA, kudengar sayup protokoler acara menyebut nama yang sangat kukenal saat mengumumkan 10 besar Wisudawan/Wisudawati terbaik tahun ini.
* * * *
…..Jangan terlalu keras pada dirimu, sudah kaubuktikan semuanya, lanjutkan kembali hidupmu, nikmati apa yang telah kau raih…. Bahagiaku untukmu…..